Jumat, 08 April 2011

Alat Pemipil Jagung


I.  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang banyak diusahakan petani karena merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras.  Pemanfaatan jagung selain sebagai bahan subtitusi beras juga dapat digunakan untuk pakan ternak dan bahan baku industri.  Penggunaan  jagung sebagai bahan baku industri pertanian lebih luas dari beras.  Hampir semua bagian tanaman jagung mempunyai kegunaan.  Batang dan daun jagung dapat digunakan untuk kertas dan papan dinding.  Tongkol dapat digunakan untuk bahan bakar, silosa dan furfural.  Sedangkan biji jagung dapat diolah menjadi tepung dan pati jagung.  Selanjutnya pati jagung dapat dolah lebih lanjut menjadi dekstrin, sirup gula, dan bahan lainnya.
Peningkatan produksi jagung melalui perbaikan teknologi budidaya dapat dikatakan cukup berhasil.  Selama kurun waktu lima tahun terakhir produksi jagung terus me ningkat.  Namun demikian, keberhasil-an peningkatan produksi jagung ter-sebut belum diikuti dengan penanganan pasca panen yang baik sehingga belum dapat menjamin ketersediaan jagung baik kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya. Untuk dapat melaksanakan penangan-an pasca panen yang tepat dibutuhkan adanya pedoman penanganan pasca panen jagung yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang benar.  Dengan adanya pedoman penanganan pasca panen jagung diharapkan petani dapat melakukan penanganan pasca panen jagung secara tepat sehingga dapat memperoleh jagung yang memenuhi persyaratan mutu dan kemanan pangan sehingga dapat memberikan nilai tambah yang signifikan kepada petani.


B.     Tujuan
Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk memperkenalkan alat pasca panen jagung.
2.      Untuk mengetahui cara kerja alat pemipil jagung tipe bangku.
3.      Menambah pengetahuan mengenai alat dan proses pemipilan jagung.
I.                   PEMBAHASAN

Penanganan pasca panen jagung adalah semua kegiatan yang dilakukan sejak jagung dipanen sampai menghasikan produk antara (intermediate product) yang siap dipasarkan.  Dengan demikian, penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan berikut, yaitu pemanenan, pengupasan, pengeringan jagung tongkol, pemipilan, pengeringan jagung pipilan,  penyimpanan dan pengemasan serta pengolahan jagung.
Jagung bertongkol adalah hasil panen tanaman jagung yang telah dikupas dibersihkan dan dikering-kan. Jagung pipilan adalah hasil panen tanaman jagung yang telah dipipil, dikeringkan dan dibersihkan. Pasca Panen adalah semua kegiatan mulai dari panen sampai dengan menghasilkan produk setengah jadi (intermediate product). Produk setengah jadi adalah produk yang tidak mengalami perubahan sifat dan komposisi kimia.

Pemanenan Jagung
Pemanenan merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkaian kegiatan penanganan pasca panen jagung, karena berpengaruh terhadap kuantitas hasil.  Pemanenan yang terlalu awal, memberikan hasil panen dengan persentase butir muda yang tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya rendah.  Sedangkan pemanenan yang terlambat mengakibatkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan, sebagai akibat pengaruh cuaca yang tidak menguntungkan maupun infestasi hama dan penyakit dilapang.
Berdasarkan kenampakan fisiknya, pemanenan jagung umumnya dilakukan setelah batang dan daun berwarna kuning  atau pada saat kadar air mencapai 30 - 40 %.  Meskipun demikian, di beberapa daerah, jagung dipanen setelah batang dan daun berwarna coklat pada tingkat kadar air mencapai 17 – 20%.
Cara panen jagung tergantung pada kondisi usahatani setempat.  Para petani kecil yang memetik hasil untuk segera dijual biasanya memanen jagung dalam bentuk tongkol tanpa kelobot.  Sebaliknya petani yang me-miliki ternak, atau yang akan menyimpan jagungnya dalam jumlah banyak, biasanya memanen jagung dalam bentuk tongkol berkelobot.  Kelobot jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak, atau dibiarkan pada tongkolnya untuk melindungi biji jagung dari serangan hama selama penyimpanan.  Penyimpanan jagung yang berkelobot dilakukan dengan menyimpan di atas para-para, yaitu diatas tungku pemasak keluarga.
Panen pada kadar air tinggi (30-40%) membutuhkan waktu lama untuk pengeringan jagung.  Apabila terjadi penundaan penjemuran akibat gangguan hujan sehingga udara lembab, maka disarankan agar :
1)      jagung segera dipipil dengan pemipil mekanis
2)      jagung dihamparkan dan jangan diletakkan dalam karung.
Cara panen tradisional yang cukup baik adalah dengan menyabit batang jagung setinggi pinggang pada jagung berkadar air tinggi (30 – 40%).  Kemudian jagung langsung dipetik, dan dikupas kelobotnya serta dimasukkan kedalam keranjang.
Cara panen pada jagung berkadar air rendah (17 – 20%) adalah dengan memetik dan mengupas kelobot jagung langsung pada batangnya tanpa menyabit tanaman jagung terlebih dahulu.
Cara yang tidak dianjurkan adalah meninggalkan jagung dalam kelobot pada batang yang telah disabit, terhampar dalam onggokan di atas tanah.  Dalam kondisi demikian, jagung dengan cepat akan tercemar oleh kotoran tanah dan jamur apabila terjadi hujan.

Pemipilan Jagung
Setelah masa panen jagung, jagung yang telah kering sudah bisa dilakukan pemipilan. Pemipilan merupakan salah satu kegiatan dalam proses pasca panen jagung yang banyak menyerap tenaga kerja dan menentukan kualitas biji jagung. Proses pemipilan dapat dilakukan dengan cara manual dan mekanis.
1.        Secara Manual
Pemipilan secara manual mempunyai beberapa keuntungan, antara lain persentase biji rendah dan sedikit kotoran yang tercampur dalam biji. Kapaasitas pemipilannya sangat rendah yaitu 10-20 kg/jam/orang, sehingga dibutuhkan waktu 8,33 hari untuk memipil satu ton jagung. Lamanya waktu pemipilan menyebabkan penundaan proses selanjutnya, sehingga mempercepat berkembangnya aflatoksin.
Pemipilan jagung dengan tenaga manusia dapat dilakukan dengan tangan, tongkat pemukul, gosrokan, pemipil besi diputar, pemipil besi bergerigi dan alat pemipil jagung sederhana lainnya.  Pemipilan jagung dengan tenaga manusia sebaiknya dilakukan pada tingkat kadar air 17%.  Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya peningkatan kerusakan mutu pada jagung.
Pemipilan jagung yang paling sederhana adalah dengan meng-gunakan tangan.  Dengan metode ini, kapasitasnya rendah dan kerusakan mekanisnya kecil.  Pemipilan jagung dengan tongkat pemukul sebaiknya tidak dilakukan lagi karena pemipilannya tidak sempurna sehingga biji masih banyak yang tertinggal pada tongkol dan kerusakannya lebih besar.
Apabila tidak terdapat pemipil jagung mekanis di daerah produksi jagung, gosrokan dapat dianjurkan karena dibandingkan dengan cara manual lainnya, gosrokan mempunyai laju pemipilan yang cukup cepat dan mutu yang cukup baik.

2.        Secara mekanis
Pemipilan secara mekanis yaitu dengan menggunakan mesin pemipil jagung (corn sheller).  Keuntungan dari penggunaan mesin adalah kapasitas pemipilan lebih besar dari cara manual. Namun apabila cara pengoperasiannya tidak benar dan kadar air jagung yang di pipil tidak sesuai, maka akan mempengaruhi viabilitas benih. Mesin pemipil jagung telah banyak dihasilkan dan dikenal masyarakat namun banyak menghasilkan jagung pipil utnuk bahan baku pakan maupun pangan.
Pemipilan dengan tenaga mekanis umumnya dilakukan oleh petani pada pusat-pust produksi jagung, dengan cara menyewa mesin pemipil tersebut.  Pemipil jagung mekanis telah banyak dibuat di Indonesia baik oleh industri alat pertanian skala besar maupun oleh bengkel lokal di pedesaan.  Mutu dan harga pemipil jagung buatan lokal dapat bersaing dengan buatan industri alat pertanian. Harga sebuah pemipil jagung mekanis tergantung pada merk dan buatan, kapasitas (0,1–2,0 ton jagung pipil/jam), serta penggunaan kipas pembersih.  Mesin pemipil jagung mekanis biasanya digerakkan oleh motor diesel 5 PK untuk mesin tanpa kipas dan 7 PK untuk mesin dengan kipas.
Sebaliknya sebuah mesin pemipil lain yang bekerja tanpa motor hanya berkapasitas 1,0 ton jagung pipil/jam.  Dengan pemipil ini, tongkol yang telah dipipil di-masukkan kembali ke dalam mesin pemipil.  Walaupun demikian, diperkirakan terdapat 0,5% susut tercecer akibat adanya butiran jagung yang masih melekat pada tongkol.
Yang perlu diperhatikan adalah mesin pemipil jagung dengan konstruksi gigi khusus seingga dapat digunakan untuk pemipilan jagung pada kadar air sekitar 35%.  Mesin pemipil model ini bekerja di daerah produksi jagung yang menghasilkan jagung pipil dengan mutu yang baik dan biaya yang rendah bagi petani.
Selain menggunkan kedua cara diatas, kita juga dapat menggunakan alat pemipil semi mekanis. Salah satu alat pemipil jagung semi mekanis yang dapat digunakan adalah alat pemipil jagung sederhana model bangku.
3.         
4.        Alat pemipil jagung sederhana model bangku
Alat pemipil jagung model bangku merupakan satu dari sekian pemipil jagung sederhana. Alat ini dapat dibuat oleh bengkel di pedesaan dengan bahan yang tersedia secara lokal. Pemipil jagung model bangku dapat memipil jagung dengan kadar air 17-18% dengan tingkat kerusakan biji kurang dari 1%. Dengan demikian penggunaan alat ini dapat membantu proses pengeringan jagung dalam bentuk biji. Jagung yang dihasilkan petani sering terkontaminasi oleh aflatoksin. Menurut hasil penelitian, kandungan aflatoksin pada ambang atas tertentu dapat mengganggu kesehatan ternak maupun manusia, sehingga jagung yang terkontaminasi aflatoksin kurang kompetitif di pasaran bahkan ditolak oleh pabrik pakan ternak. Selain masalah kontaminasi alfatoksin, kehilangan hasil akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat juga cukup tinggi, baik susut bobot maupun susut mutu. Penanganan pascapanen biji jagung pada kadar air 17-20% mengakibatkan susut bobot hingga 4,7% dan susut mutu 9%. Kehilangan hasil akan lebih besar lagi pada kadar air tinggi (35-40%). Oleh karena itu, usaha pengembangan jagung nasional perlu didukung oleh penanganan pascapanen yang memadai seperti pengeringan dan pemipilan.
Perbaikan penanganan pascapanen diharapkan dapat menekan kehilangan hasil dan memberikan nilai tambah kepada petani, mengingat terdapat standar mutu jagung pipilan agar dapat diterima oleh industri pakan ternak. Petani biasanya mengeringkan jagung dalam bentuk tongkol dan melakukan pemipilan secara manual, sehingga selain memerlukan waktu yang lama juga tingkat kejerihan kerjanya cukup tinggi. Berkaitan dengan masalah tersebut, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian telah merekayasa pemipil jagung sederhana model bangku.
Konstruksi pemipil jagung model bangku terdiri atas silinder pemipil, engkol pemutar, ruang pemipil, bangku, dan pengarah (corong) jagung pipilan. Bahan konstruksi 90% dibuat dari kayu dan untuk gigi pemipil, engkol pemutar, as silinder pemipil, dan corong pengarah biji jagung dibuat dari besi. Silinder pemipil dibuat dari kayu bulat-masif dengan diameter 200 mm dan panjang 300 mm untuk tempat kedudukan gigi pemipil. Gigi pemipil dibuat dari besi beton berdiameter 6 mm dengan panjang 30 mm yang salah satu ujungnya dibuat pipih. Besi ditancapkan pada silinder kayu sedalam 15 mm yang sebelumnya telah dilubangi dengan kedalaman 5 mm.
Gigi perontok disusun dalam baris di sepanjang silinder dengan jarak antargigi 30 mm dan jarak antarbaris 30 mm, serta masing-masing gigi antarbaris diposisikan selang-seling. Deretan gigi pemipil dalam baris dipasang membentuk garis dengan kemiringan 150 terhadap lingkaran pinggir  silinder pemipil. Hal ini dimaksudkan agar proses pemipilan menjadi lebih ringan karena gigi pemipil dalam satu baris bekerja secara bergantian, serta untuk memudahkan pemutaran tongkol jagung pada saat dipipil. Di antara baris gigi pemipil dipasang deretan paku 25 mm sejajar baris gigi pemipil. Paku ditancapkan sedalam 15 mm dan sisanya ditekuk ke arah berlawanan dengan arah putaran silinder pemipil pada saat proses pemipilan, tetapi posisi kepala paku masih di atas permukaan silinder pemipil. Paku berfungsi untuk membantu memutar tongkol jagung. Dalam pengoperasiannya, operator duduk di bagian bangku kemudian tangan kanan memutar engkol ke arah depan dan tangan kiri mengambil dan meletakkan tongkol di atas silinder pemipil dengan posisi tongkol memanjang sejajar silinder pemipil.
 Pada saat silinder pemipil diputar, tongkol ditahan menggunakan telapak tangan kiri dengan cara memberi tekanan ringan sehingga tidak menimbulkan kelelahan pada telapak tangan, dan tongkol dapat berputar. Pemipil jagung model bangku memiliki kapasitas 75 kg pipilan/jam dengan butir rusak kurang dari 1% dan tingkat kebersihan hampir 100%. Apabila diasumsikan harga alat pemipil per unit Rp250.000 maka biaya pokok operasi sebesar Rp25/kg. Dengan demikian, penggunaan alat pemipil model bangku, selain dapat mengurangi kejerihan petani dalam memipil jagung, juga dapat menghasilkan jagung pipilan dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan pemipilan secara konvensional. Pengeringan jagung dari kadar air 17-18% ke kering simpan/ giling juga lebih cepat dan efisien karena jagung dikeringkan dalam bentuk pipilan, bukan dalam bentuk tongkol








nstruksi alat pemipil jagung sederhana model bangku




KESIMPULAN

            Dari makalah ini maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang banyak diusahakan petani karena merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras
2.      Penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan berikut, yaitu pemanenan, pengupasan, pengeringan jagung tongkol, pemipilan, pengeringan jagung pipilan,  penyimpanan dan pengemasan serta pengolahan jagung.
3.      Cara panen jagung tergantung pada kondisi usahatani setempat
4.      Pemipilan merupakan salah satu kegiatan dalam proses pasca panen jagung yang banyak menyerap tenaga kerja dan menentukan kualitas biji jagung.
5.      Proses pemipilan dapat dilakukan dengan cara manual dan mekanis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar